US-INA Cooperative Work Project Sails with The Floating School

Pada tanggal 3 Juli 2018, dua puluh pemuda yang tak mengenal satu sama lain turun dari pesawat yang
datang dari beberapa daerah berbeda dan pergi ke sebuah hostel di Makassar. Beberapa dari mereka
adalah orang Amerika dan orang Indonesia. Namun, tak satu pun dari mereka tahu apa yang akan terjadi pada pertemuan nantinya.

Para peserta Program the US-INA Cooperative Work Project terdiri dari dua kelompok:

1) Anggota YSEALI (Young Southeast Asian Leadership Initiative)

2) Jaringan mahasiswa dan alumni Universitas Puget Sound yang memiliki pengalaman belajar, tinggal dan /atau melakukan perjalanan ke Asia Tenggara.

Tugas kami? Bekerja sama dengan LSM yang bergerak dalam bidang pendidikan di Indonesia yang telah mengidentifikasi kebutuhan, menguraikan rencana untuk mengatasi kebutuhan tersebut, melaksanakan rencana dan menunjukkan hasil nyata serta rekomendasi untuk LSM tersebut di masa yang akan datang. Beruntung bagi kami karena LSM tersebut adalah The Floating School yang ada di Sulawesi Selatan. Kami menghabiskan Dua hari pertama dalam program kami di Makassar, tepatnya di Rumata Art Space. Kami bekerja tanpa lelah dalam memetakan visi dan misi program kami selama beberapa hari ke depan: siapa pergi ke mana, siapa melakukan apa, bagaimana, mengapa…. Dan seterusnya.

Luisa Kennefick, Kyle Chong, Tiare Gill, Binar Lestari, dan Dinda Ciptaviana menyiapkan program acara untuk seminggu ke depan di halaman Rumata Art Space.

Rencana kami adalah untuk menyelenggarakan lokakarya/kelas bagi para siswa remaja di dua pulau yang juga diselenggarakan oleh The Floating School, yaitu di Pulau Saugi dan Pulau Satando, Kabupaten Pangkep. Kelas ini akan diadakan setiap hari yang awalnya meliputi kelas olahraga seperti permainan badminton hingga kelas menulis kreatif. Kami juga ingin secara bersamaan menghibur anak-anak muda di pulau-pulau tersebut serta memfasilitasi pertukaran budaya dan komunikasi sosial dengan orang dewasa. (Oh, dan apakah saya telah menyebutkan bahwa sebagian dari kami juga akan melakukan perjalanan kembali ke daratan utama untuk mengerjakan laporan tahunan, strategi komunikasi, dan pengembangan situs web The Floating School?)

Kelas pada program ini dirancang dengan dua tujuan sesuai dengan semangat para pendiri The Floating School:

1) Memberikan pendidikan informal yang berkualitas dan membuka peluang baru bagi pemuda di pulau
2) Meningkatkan kepercayaan diri para pemuda dan memperluas wawasan kerja mereka

Pada dasarnya, The Floating School berusaha mengatasi isu ketimpangan akses pendidikan di Indonesia.Hal ini dikarenakan standar pendidikan di daerah pedesaan dan/atau daerah terpencil sering menghadapi kesulitan. Mengutip pernyataan salah satu pendiri The Floating School, Rahmat, “Kehidupan di pulau itu sangat terpencil. Lokakarya/kelas kami bertujuan untuk membantu anak-anak untuk mengekspresikan emosi, perasaan, dan jiwa mereka. Tujuannya adalah untuk membuat mereka bahagia dalam belajar! ”

Pada hari-hari menjelang dimulainya program, kami sering berkomunikasi melalui apllikasi media social seperti Slack serta Line; meskipun tidak satu pun dari kami yang sepenuhnya benar-benar memahami akan banyaknya perencanaan yang ternyata harus dilakukan. Kami bekerja sejak pagi hingga larut malam untuk menyusun perencanaan program. Saat kami meninggalkan Rumata Art Space, kami telah membagi dua kelompok untuk dua pulau. Selain itu, kami juga telah membuat jadwal tentatif, menguraikan daftar
pelajaran yang akan diajarkan, dan rencana-rencana lainnya. Saat persiapan di Rumata art space, tak lupa kami bersenang-senang dengan melakukan beberapa aktivitas permainan dan lokakarya Theater for Change yang diadakan oleh pelajar Darmasiswa, Ryan
Sutherland. Kami juga merayakan 4 Juli (Hari Kemerdekaan Amerika). Melalui kegiatan tersebut, jalinan persahabatan diantara peserta tumbuh dengan cepat. Kami menikmati pizza dan nasi goreng, saling berbagi cerita, pemikiran, keyakinan, dan impian kami untuk masa depan. Dan meskipun hanya menghabiskan waktu selama dua hari di Makassar, kami seolah-olah telah menghabiskan berminggu-
minggu bersama-sama.

Pada tanggal 6 Juli kami menaiki bus ke Pangkep yaitu ke dermaga tempat kami menuju ke Pulau Satando dan Pulau Saugi. Sayangnya, kelompok kami harus berpisah pada titik ini. Dua belas dari kami pergi ke Pulau Satando dan delapan lainnya pergi ke pulau Saugi di mana setiap kelompok akan tinggal disana selama sepuluh hari.

Rumah sementara kami, Pulau Satando.

Awalnya di Pulau Satando, kami fokus pada kegiatan pertukaran budaya melalui lokakarya/kelas kami. Kami juga ingin mengenal lebih dekat pulau itu sebelum kami mulai mengajar. Kami berusaha untuk membaur dan memahami penduduk setempat dan budaya yang ada disana; natinya, kami berencana untuk menjangkau lebih banyak siswa dan kami berharap bahwa program kami akan membawa dampak yang lebih besar pada komunitas pulau. Selama disana, kami tinggal di beberapa rumah penduduk yang diisi tidak lebih dari 3 orang per rumah. Selain itu, kami menentukan satu rumah yang berpusat di tengah pulau sebagai markas dimana kami bisa berkumpul dan makan bersama. Markas ini juga menjadi tempat di mana kami menyimpan persediaan kami, mengadakan pertemuan kelompok, bermain, dan juga bernyanyi.

Setelah tinggal dan mengamati kehidupan di pulau selama beberapa hari, kami menyadari bahwa kami harus merubah seluruh jadwal mulai dari awal. Kami cukup beruntung karena kami datang saat liburan sekolah diperpanjang, yang berarti bahwa kami memiliki waktu penuh dengan para siswa kami. Namun, hal tersebut juga berarti bahwa mereka harus membantu pekerjaan orang tua mereka lebih dari waktu biasanya dengan tugas-tugas rumah tangga – baik itu memasak, membersihkan, dan / atau berlayar mencari ikan. Oleh karena itu, jadwal awal yang telah kami buat harus benar-benar diperbarui untuk mengakomodasi jadwal yang disesuaikan dengan aktivitas mereka. Alih-alih kelas yang dibuat sepanjang hari ditambah waktu istirahat; kami akhirnya membuat tiga kelas dengan system blok tiga jam antara jam 2-5 sore. Perubahan ini membawa konsekuensi yang tidak kami duga sebelumnya. Selain perubahan dalam rencana awal, kami sekarang juga harus bekerja dengan para siswa setiap malam selalu terjaga untuk bekerja melaut.

Di minggu berikutnya, dua belas anggota kami menjalankan 15 lokakarya/kelas selama 5 hari. Kelas bahasa Inggris berkolaborasi dengan kelas menulis kreatif untuk menulis dan menerjemahkan puisi. Fasilitator kami memimpin kelas dengan pendektatan pengalaman lapangan yang mendalam. Setelah itu, para siswa juga diajari untuk membuat peta pulau mereka dan belajar bahasa Inggris tentang kosakata yang ada di pulau itu. Kelas seni mengajarkan siswa untuk membuat buku mewarnai dan kelas musik mengajari siswa menyanyi dua lagu yaitu Laskar Pelangi oleh Nidji dan All You Need Is Love oleh The Beatles.

Kunto Nurcahyoko dan Harrison Rosenberg memfasilitasi kelas Bahasa Inggris di halaman sekolah.

Satu minggu berlalu dan pada Sabtu malam kami membuat acara perpisahan. Kami memang memutuskan sejak awal bahwa kami ingin  menampilkan karya seni, lagu, dan puisi yang telah dikerjakan oleh para siswa – meskipun kami tidak tahu seberapa besar acara tersebut  nantinya. Kami bertemu dengan kepala desa, sekretaris, dan orang tua untuk mendiskusikan rencana kami, dan mereka ingin sekali membantu. Masyarakat mendirikan panggung, kursi, lampu, dan papan untuk menampilkan karya siswa dan mayoritas dari 500 orang di pulau itu hadir ketika para siswa menari, bernyanyi, dan membaca puisi. Setelah itu, kami merayakannya dengan kembang api dan berjoget ria yang suaranya terdengar sampai ke Pulau Saugi.

Karena tujuan dari The Floating School sebagian besar bersifat kualitatif, kami mengukur keberhasilan kami dengan mengukur antusiasme dan semangat yang dimiliki para siswa remaja kami untuk belajar. Pada hari terakhir, kami menampilkan pohon impian yang telah dikerjakan bersama oleh para siswa. Di pohon sederhana tersebut, para siswa menulis impian mereka pada origami yang dilipat dan digantung.

Beberapa dari mereka ingin menjadi guru, ada yang ingin masuk universitas, dan terdapat dua siswa laki- laki yang cukup ambisius karena bercita-cita menjadi Presiden. Bahkan setelah kami menyelesaikan program, kami masih menerima pesan, telepon dan notifikasi via media sosial dari para siswa kami tentang apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka pelajari.

Dermaga Barat di Pulau Satando

Kelompok kami memiliki tempat favorit untuk menyaksikan matahari terbenam bersama setiap malam sebelum makan malam, kadang-kadang di dermaga, kadang-kadang berenang, dan kadang-kadang di gundukan pasir. Kami tahu bahwa waktu kami bersama-sama hanyalah sementara. Karenanya, kami ingin menghabiskan waktu bersama-sama sebanyak mungkin. Kelompok kami berasal dari Los Angeles, Kalimantan Barat, New York, Jakarta, dan banyak lagi. Pada tanggal 17 Juli, kami berpisah tanpa adanya  kepastian bahwa kami semua akan berada di tempat yang sama lagi. Waktu kami di Sulawesi sangat singkat, dan cukup sulit untuk mengetahui dampak nyata bahwa program US-INA Cooperative Work Project kami yang ada di pulau-pulau yang kami kunjungi. Pada akhirnya, saya tahu bahwa pekerjaan kami akan dilanjutkan oleh tim The Floating School yang selalu bekerja tanpa lelah untuk membangun
jaringan dan peluang untuk semua orang yang mereka temui, termasuk saya. Untuk itu, saya selalu bersyukur atas kesempatan ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *